Senin, 09 Desember 2019

Cerpen Kisah SMA


Kisah SMA
Oleh : Nur Lailatul Badriah 1701050075

Namaku Sila Alina… Teman-teman ku biasa memanggilku Alin, Aku memiliki tiga orang sahabat yang sangat aku sayangi bernama Nisa… Nita… dan Aida… Nisa gemar sekali membaca novel, Nita sangat senang bernyanyi, meskipun suaranya jelek, sedangkan Aida sangat senang menggambar.

Aku, Nisa, Nita, dan Aida bersekolah di tempat yang sama. Di salah satu MA Swasta yang ada di daerah asalku. Di kelas X, kami hanya berteman seperti biasa, kami memang kenal sejak SMP tapi persahabatan kami belum terlalu akrab. Namun sejak kelas X MA kami mulai bersahabat. Sejak saat itu, ke mana pun pergi kami selalu saja berempat. Tak hanya disaat senang, bahkan dihukum pun kami berempat. Hingga orang-orang menamai kami “papatan”.
Seorang guru berjalan menuju kelasku. Ia adalah ibu Mahmudah, seorang guru yang mengajar sebagai guru Goegrafi sekaligus wakil kepala Sekolah di sekolahku.
“Anak-anak… Minggu depan kita akan akan melakukan Latihan Ujian Nasional”. Ujar bu mudah.
Di kelas, tempat dudukku berada di dekat Nisa. Tapi kami biasanya kami biasanya berpindah-pindah tempat duduk  setiap ganti jam pelajaran, terkadang aku duduk Bersama Nita Nisa Dan Aida, aku memiliki panggilan khusus kepada ketiga sahabat ku, Nisa biasa kupanggil “dek nisa”, Nita kupanggil “mbk nita”, dan Aida kupanggil “nung”. Keesokan harinya, Nisa menelponku Kring.. kring..
“siapa ya pagi-pagi nelepon?”.. ujarku dalam hati.
Ternyata itu adalah Nisa. Aku menjawab telpon dari Nisa,ternyata Ia ingin mengajak ku main kerumah Nita dan dia mengajak Aida juga untuk main bersama sekaligus belajar kelompok untuk persiapan LUN minggu depan.
Keesokan harinya Aku dan Aidah menjemput Nisa dan pergi kerumah Nita. Sampainya dirumah Nita kami berbincang-bincang mengenai berbagai hal sembari makan jambu air yang ada didepan rumah Nita. dan kami lupa dengan niat kami untuk belajar kelompok.
Seminggu kemudian. Aku pergi kesekolah untuk melaksanakan LUN. Dan aku tiba disekolah. Tak lama setelah itu, mereka datang. Kami pun masuk ke dalam kelas untuk mencari tempat duduk. Lalu kami duduk bersama. Bercerita dan bercanda bersama. Senang sekali rasanya. Nisa, Nita, Aida tak hanya kuanggap sebagai sahabat, tetapi juga sebagai keluarga.
Lembar jawaban dibagikan. Kami mengerjakan soal-soal dengan seksama dan LUN hari ini pun selesai.
 “Makan yuk, lapar..” ujar Nita yang dari tadi mengeluh karena belum sarapan.
“Yuk, cari makan di mana ya bagusnya?” jawab Nisa.
“Tanya Aida gih” kata Nita sambil menyuruh Nisa bertanya pada Aida.
 “Jalan aja dulu, ntar kalau ketemu tempat enak, baru makan.” Jawab Aida.
Kami pun jalan dan akhirnya memutuskan untuk makan di kantin favorit kami. Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk menuju kerumah Nita, karena rumah Nita yang paling dekat dngan sekolah. Sesampainya di sana, Aida memberitahu bahwa ia tak bisa lama-lama. Karena dia mau pergi bersama orangtuanya. Akhirnya tinggallah kami bertiga.
Kami bersenda gurau bersama, seperti biasa. Tertawa, indah sekali rasanya. Beragam tingkah lucu kami bertiga membuat perutku terasa sakit. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke kamar. Kini tak hanya bertiga. Ada kucing lucu peliharaan Nita yang diberi nama Aming. yang sangat menggemaskan. Melihat kami duduk di tempat tidur, ia dengan lincahnya melompat untuk ikut bergabung.
 “meong……” kucing Nita mendekati Nisa.
“aaaaaa…... seram….” ujar Nisa yang memang agak takut kucing.
Aku dan Nita tertawa terbahak-bahak. Kami terus bermain hingga tak sadar waktu menunjukkan pukul 16.30 akhirnya aku dan Nisa pun pulang.
Keesokan harinya, kami mengikuti LUN lagi. Namun ada sesuatu yang berbeda. Nita. Ia tampak cuek dan tak ingin mendekat dengan Aku, Nisa dan Aida. Aku bertanya pada Nisa
“mbk Nita kenapa Dek?”.
“Gak tau, kita ada salah ya?” jawabnya yang malah balik bertanya.
Sejak itu aku, Aida dan Nisa terus berusaha mendekati Nita. Namun tetap saja. Ia berbeda.
Sesekali kami bertanya dan jawaban darinya agak sedikit menyakitkan. Aku,Aida dan Nisa semakin bingung. kemarin kami bermain hingga sore, namun kenapa pagi harinya malah ia tak mau berbicara dengan kami.
Hingga akhirnya ia bermain dengan rombongan yang lain. Terus berjalan seperti itu hingga beberapa saat Nita sudah mulai berbicara dengan Nisa. Lalu aku mendekat, dan mengajaknya ke kantin.
 “jajan yuk”.
“awaslah Lin, aku lagi malas!!!!”… jawabnya ketus. Perasaanku mulai tak enak. Aku bertanya-tanya dalam hati apa salah dengannya.
Hari terus berjalan, Nisa dan Nita tetap bermain berdua. Seolah menjauhiku dan Aida yang tak tau salah apa. Aku dan Aida sangat merasa kehilangan, selama Nisa dan Nita tidak di dekatku aku hanya bermain dengan Aida dan teman-teman yang lain. Pikirku, aku hanya bisa terbuka dengan mereka. Aku sedih. Aku sudah mencoba mendekati Nita, namun ia tetap menjauh. Setiap aku ingin bertanya pada Nisa, seolah-olah Nita menahannya.
Hingga suatu hari, Nita tak datang karena suatu hal. Nisa mendekatiku. Ia menggenggam tanganku dan berkata,
“Baikanlah kalian, aku mau kalian kayak dulu lagi”.
Aku terdiam. Bahkan ini bukanlah keinginanku. Lalu aku menjawab
“Apa salah aku dan Aida Nis? Kok tiba-tiba dia ngejauh gitu”. Nisa menatapku dalam, seolah mencoba mengerti. Lalu ia berkata
 “Tadi malam aku telpon dia, aku tanya kenapa dia kayak gitu. Awalnya dia cuma jawab aku malas. Tapi ujung-ujungnya dia jujur”. Aku tertunduk mendengarnya.
“dia bilang, kamu adalah orang terdekatnya. Dia sadar, dia adalah tipikal orang yang sulit untuk bersosial. Dia menjauh, supaya dia terbiasa. 2 bulan lagi kita bakal pisah. Aku sama dia kemungkinan satu Universitas dan kamu beda. Jadi dia mau membiasakan diri tanpa kau dan Aida.”
Sontak aku terdiam. Tak sanggup rasanya berkata apa-apa. Aku berusaha menahan air mataku agar tak terjatuh. Lalu aku menguatkan diri untuk menjawab “Sudah tau tinggal 2 bulan, kenapa gitu? Justru baiknya 2 bulan itulah dihabiskan untuk kenangan yang indah kita.” “aku sudah bilang padanya, tapi dia tetap mengeras.” Jawab Nisa menguatkan.
Hari-hari selanjutnya bagiku terasa sepi. Rasanya tidak sama, seperti ada sesuatu yang kurang. Jelas, itu adalah sahabatku. Terkadang Nisa mendekatiku dan Aida, lalu mendekati Nita. Aku tak marah. Karena aku tau pasti berat di posisinya yang berada di tengah-tengah.
Hingga suatu hari. Aku terduduk di kelasku. Siswa yang lain ke kantor untuk mengambil nilai Sosiologi, dan tinggallah aku dengan Yuni. Salah seorang teman 1 kelompokku di kelas. Lalu Nisa dan Nita masuk ke kelas. Melihatku ada di sana, mereka pun pergi. Namun sekilas Nisa memandangku tersenyum.
“kok kalian gak berempat lagi la?” tanya Yuni.
Awalnya aku hanya diam. Tak ingin menjawab. Namun hatiku terasa miris. Sesekali kudengar Nita dan Nisa tertawa di luar kelas. Hingga akhirnya aku menangis.
 “udahlah, jangan ditahan. Coba cerita” ujar Yuni sembari menenangkan.
“Aku rindu Nita. Aku rindu semua hal yang kami lakuin sama-sama dulu.”
 Akhirnya aku memulai obrolan. Aku menjelaskan semuanya pada Yuni dan hingga akhirnya tangisku pecah. Namun segera kuhapus karena kulihat seseorang masuk ke dalam kelas dan itu adalah Nisa. Ia terkejut dan mendekatiku.
 “kenapa mbk Lin? Kok nangis” tanyanya.
“gak ada apa-apa” jawabku.
“iya nilai kami belum bagus, makanya dia sedih” jawab Yuni mencoba menyakinkan Nisa.
Namun Nisa terus memandangku seolah tak percaya dengan penjelasan dari Yuni. Hingga akhirnya aku jujur dengan Nisa. Tampak genangan air mata di kelopak matanya. Lalu seseorang masuk ke kelas dan duduk di barisan paling depan. Dia adalah Nita. Aku pun memutuskan untuk ke kamar mandi.

Kulihat Ani yang hendak menuju kelas, lalu kuminta dia menemaniku. Aku mencuci muka, berusaha agar bengkak di mataku tak begitu jelas.
“kamu kenapa lin…” tanya Ani. Aku tersenyum.
Lalu kami menuju halaman depan kelas. Di sana sudah ada Nisa yang menunggu sendirian. Ia memelukku. Ia menangis dan berkata
“Aku bingung harus gimana kalau kalian kayak gini. Aku Cuma pengen kita kayak dulu lagi. Bukan ini yang aku mau.”
Aku tersenyum dan kucoba menguatkannya. “udah gak papa, kapan-kapan kau mainlah sama aku dan aida dan kapan-kapan kau mainlah sama dia.” Jawabku mencoba menenangkannya.

Aku tau, bagaimana perasaannya. Ia pasti kebingungan, namun bagaimanapun juga inilah kenyataannya. Persahabatan kami terpecah. Dan kami sudah lulus dari Ma , kami sudah menjalani hidup masing-masing. Kadang pikiranku melayang, mengenang masa-masa dimana kami masih bermain bersama, masa-masa dimana sesedih apapun yang kami alami kami masih bisa tersenyum bersama. Aku merindukan semua itu. Dan kini aku hanya dapat berdo’a, semoga kelak persahabatan kami dapat menyatu kembali.

selesai

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran

Peran Teknologi Informasi dan Komunikasi dalam Meningkatkan Kualitas Pembelajaran                P emanfaatan TIK dalam pendidikan menjadi 4...