Kisah SMA
Oleh : Nur Lailatul Badriah
1701050075
Namaku Sila Alina… Teman-teman ku
biasa memanggilku Alin, Aku memiliki tiga orang sahabat yang sangat aku sayangi
bernama Nisa… Nita… dan Aida… Nisa gemar sekali membaca novel, Nita sangat
senang bernyanyi, meskipun suaranya jelek, sedangkan Aida sangat senang
menggambar.
Aku, Nisa, Nita, dan Aida bersekolah
di tempat yang sama. Di salah satu MA Swasta yang ada di daerah asalku. Di
kelas X, kami hanya berteman seperti biasa, kami memang kenal sejak SMP tapi
persahabatan kami belum terlalu akrab. Namun sejak kelas X MA kami mulai
bersahabat. Sejak saat itu, ke mana pun pergi kami selalu saja berempat. Tak
hanya disaat senang, bahkan dihukum pun kami berempat. Hingga orang-orang
menamai kami “papatan”.
Seorang guru berjalan menuju
kelasku. Ia adalah ibu Mahmudah, seorang guru yang mengajar sebagai guru
Goegrafi sekaligus wakil kepala Sekolah di sekolahku.
“Anak-anak… Minggu depan kita akan
akan melakukan Latihan Ujian Nasional”. Ujar bu mudah.
Di kelas, tempat dudukku berada di
dekat Nisa. Tapi kami biasanya kami biasanya berpindah-pindah tempat duduk setiap ganti jam pelajaran, terkadang aku
duduk Bersama Nita Nisa Dan Aida, aku memiliki panggilan khusus kepada ketiga sahabat
ku, Nisa biasa kupanggil “dek nisa”, Nita kupanggil “mbk nita”, dan Aida
kupanggil “nung”. Keesokan harinya, Nisa menelponku Kring.. kring..
“siapa ya pagi-pagi nelepon?”..
ujarku dalam hati.
Ternyata itu adalah Nisa. Aku
menjawab telpon dari Nisa,ternyata Ia ingin mengajak ku main kerumah Nita dan
dia mengajak Aida juga untuk main bersama sekaligus belajar kelompok untuk
persiapan LUN minggu depan.
Keesokan harinya Aku dan Aidah
menjemput Nisa dan pergi kerumah Nita. Sampainya dirumah Nita kami
berbincang-bincang mengenai berbagai hal sembari makan jambu air yang ada
didepan rumah Nita. dan kami lupa dengan niat kami untuk belajar kelompok.
Seminggu kemudian. Aku pergi
kesekolah untuk melaksanakan LUN. Dan aku tiba disekolah. Tak lama setelah itu,
mereka datang. Kami pun masuk ke dalam kelas untuk mencari tempat duduk. Lalu
kami duduk bersama. Bercerita dan bercanda bersama. Senang sekali rasanya. Nisa,
Nita, Aida tak hanya kuanggap sebagai sahabat, tetapi juga sebagai keluarga.
Lembar jawaban dibagikan. Kami
mengerjakan soal-soal dengan seksama dan LUN hari ini pun selesai.
“Makan yuk, lapar..” ujar Nita yang dari tadi
mengeluh karena belum sarapan.
“Yuk, cari makan di mana ya
bagusnya?” jawab Nisa.
“Tanya Aida gih” kata Nita sambil
menyuruh Nisa bertanya pada Aida.
“Jalan aja dulu, ntar kalau ketemu tempat
enak, baru makan.” Jawab Aida.
Kami pun jalan dan akhirnya
memutuskan untuk makan di kantin favorit kami. Setelah selesai makan, kami
memutuskan untuk menuju kerumah Nita, karena rumah Nita yang paling dekat dngan
sekolah. Sesampainya di sana, Aida memberitahu bahwa ia tak bisa lama-lama.
Karena dia mau pergi bersama orangtuanya. Akhirnya tinggallah kami bertiga.
Kami bersenda gurau bersama, seperti
biasa. Tertawa, indah sekali rasanya. Beragam tingkah lucu kami bertiga membuat
perutku terasa sakit. Hingga akhirnya kami memutuskan untuk masuk ke kamar.
Kini tak hanya bertiga. Ada kucing lucu peliharaan Nita yang diberi nama Aming.
yang sangat menggemaskan. Melihat kami duduk di tempat tidur, ia dengan
lincahnya melompat untuk ikut bergabung.
“meong……” kucing Nita mendekati Nisa.
“aaaaaa…... seram….” ujar Nisa yang
memang agak takut kucing.
Aku dan Nita tertawa terbahak-bahak.
Kami terus bermain hingga tak sadar waktu menunjukkan pukul 16.30 akhirnya aku dan
Nisa pun pulang.
Keesokan harinya, kami mengikuti LUN
lagi. Namun ada sesuatu yang berbeda. Nita. Ia tampak cuek dan tak ingin
mendekat dengan Aku, Nisa dan Aida. Aku bertanya pada Nisa
“mbk Nita kenapa Dek?”.
“Gak tau, kita ada salah ya?”
jawabnya yang malah balik bertanya.
Sejak itu aku, Aida dan Nisa terus
berusaha mendekati Nita. Namun tetap saja. Ia berbeda.
Sesekali kami bertanya dan jawaban darinya agak sedikit menyakitkan. Aku,Aida dan Nisa semakin bingung. kemarin kami bermain hingga sore, namun kenapa pagi harinya malah ia tak mau berbicara dengan kami.
Sesekali kami bertanya dan jawaban darinya agak sedikit menyakitkan. Aku,Aida dan Nisa semakin bingung. kemarin kami bermain hingga sore, namun kenapa pagi harinya malah ia tak mau berbicara dengan kami.
Hingga akhirnya ia bermain dengan
rombongan yang lain. Terus berjalan seperti itu hingga beberapa saat Nita sudah
mulai berbicara dengan Nisa. Lalu aku mendekat, dan mengajaknya ke kantin.
“jajan yuk”.
“awaslah Lin, aku lagi malas!!!!”…
jawabnya ketus. Perasaanku mulai tak enak. Aku bertanya-tanya dalam hati apa
salah dengannya.
Hari terus berjalan, Nisa dan Nita
tetap bermain berdua. Seolah menjauhiku dan Aida yang tak tau salah apa. Aku
dan Aida sangat merasa kehilangan, selama Nisa dan Nita tidak di dekatku aku
hanya bermain dengan Aida dan teman-teman yang lain. Pikirku, aku hanya bisa
terbuka dengan mereka. Aku sedih. Aku sudah mencoba mendekati Nita, namun ia
tetap menjauh. Setiap aku ingin bertanya pada Nisa, seolah-olah Nita
menahannya.
Hingga suatu hari, Nita tak datang
karena suatu hal. Nisa mendekatiku. Ia menggenggam tanganku dan berkata,
“Baikanlah kalian, aku mau kalian
kayak dulu lagi”.
Aku terdiam. Bahkan ini bukanlah
keinginanku. Lalu aku menjawab
“Apa salah aku dan Aida Nis? Kok
tiba-tiba dia ngejauh gitu”. Nisa menatapku dalam, seolah mencoba mengerti.
Lalu ia berkata
“Tadi malam aku telpon dia, aku tanya kenapa
dia kayak gitu. Awalnya dia cuma jawab aku malas. Tapi ujung-ujungnya dia
jujur”. Aku tertunduk mendengarnya.
“dia bilang, kamu adalah orang
terdekatnya. Dia sadar, dia adalah tipikal orang yang sulit untuk bersosial.
Dia menjauh, supaya dia terbiasa. 2 bulan lagi kita bakal pisah. Aku sama dia
kemungkinan satu Universitas dan kamu beda. Jadi dia mau membiasakan diri tanpa
kau dan Aida.”
Sontak aku terdiam. Tak sanggup
rasanya berkata apa-apa. Aku berusaha menahan air mataku agar tak terjatuh.
Lalu aku menguatkan diri untuk menjawab “Sudah tau tinggal 2 bulan, kenapa
gitu? Justru baiknya 2 bulan itulah dihabiskan untuk kenangan yang indah kita.”
“aku sudah bilang padanya, tapi dia tetap mengeras.” Jawab Nisa menguatkan.
Hari-hari selanjutnya bagiku terasa
sepi. Rasanya tidak sama, seperti ada sesuatu yang kurang. Jelas, itu adalah
sahabatku. Terkadang Nisa mendekatiku dan Aida, lalu mendekati Nita. Aku tak
marah. Karena aku tau pasti berat di posisinya yang berada di tengah-tengah.
Hingga suatu hari. Aku terduduk di
kelasku. Siswa yang lain ke kantor untuk mengambil nilai Sosiologi, dan
tinggallah aku dengan Yuni. Salah seorang teman 1 kelompokku di kelas. Lalu Nisa
dan Nita masuk ke kelas. Melihatku ada di sana, mereka pun pergi. Namun sekilas
Nisa memandangku tersenyum.
“kok kalian gak berempat lagi la?”
tanya Yuni.
Awalnya aku hanya diam. Tak ingin
menjawab. Namun hatiku terasa miris. Sesekali kudengar Nita dan Nisa tertawa di
luar kelas. Hingga akhirnya aku menangis.
“udahlah, jangan ditahan. Coba cerita” ujar Yuni
sembari menenangkan.
“Aku rindu Nita. Aku rindu semua hal yang kami lakuin sama-sama dulu.”
“Aku rindu Nita. Aku rindu semua hal yang kami lakuin sama-sama dulu.”
Akhirnya aku memulai obrolan. Aku menjelaskan
semuanya pada Yuni dan hingga akhirnya tangisku pecah. Namun segera kuhapus
karena kulihat seseorang masuk ke dalam kelas dan itu adalah Nisa. Ia terkejut
dan mendekatiku.
“kenapa mbk Lin? Kok nangis” tanyanya.
“gak ada apa-apa” jawabku.
“iya nilai kami belum bagus, makanya
dia sedih” jawab Yuni mencoba menyakinkan Nisa.
Namun Nisa terus memandangku seolah
tak percaya dengan penjelasan dari Yuni. Hingga akhirnya aku jujur dengan Nisa.
Tampak genangan air mata di kelopak matanya. Lalu seseorang masuk ke kelas dan
duduk di barisan paling depan. Dia adalah Nita. Aku pun memutuskan untuk ke
kamar mandi.
Kulihat Ani yang hendak menuju kelas, lalu kuminta dia menemaniku. Aku mencuci muka, berusaha agar bengkak di mataku tak begitu jelas.
“kamu kenapa lin…” tanya Ani. Aku
tersenyum.
Lalu kami menuju halaman depan
kelas. Di sana sudah ada Nisa yang menunggu sendirian. Ia memelukku. Ia
menangis dan berkata
“Aku bingung harus gimana kalau
kalian kayak gini. Aku Cuma pengen kita kayak dulu lagi. Bukan ini yang aku
mau.”
Aku tersenyum dan kucoba
menguatkannya. “udah gak papa, kapan-kapan kau mainlah sama aku dan aida dan
kapan-kapan kau mainlah sama dia.” Jawabku mencoba menenangkannya.
Aku tau, bagaimana perasaannya. Ia
pasti kebingungan, namun bagaimanapun juga inilah kenyataannya. Persahabatan
kami terpecah. Dan kami sudah lulus dari Ma , kami sudah menjalani hidup masing-masing.
Kadang pikiranku melayang, mengenang masa-masa dimana kami masih bermain
bersama, masa-masa dimana sesedih apapun yang kami alami kami masih bisa
tersenyum bersama. Aku merindukan semua itu. Dan kini aku hanya dapat berdo’a,
semoga kelak persahabatan kami dapat menyatu kembali.
selesai
Tidak ada komentar:
Posting Komentar